Tempat Oleh-oleh

Tak seperti Makkah dan Madinah, maka kota Jeddah tidak dikenal karena kekayaan kawasan wisata dan situs sejarahnya. Kota terkaya di Timur Tengah dan Asia Barat ini lebih dikenal sebagai kawasan perdagangan dan pusat belanja. Penikmat wisata belanja bisa menelusuri berbagai kawasan belanja yang menawarkan aneka produk dengan beragam harga di kota yang berada di tepi Laut Merah ini.

Salah satu kawasan yang bisa menjadi surga bagi perbelanja adalah Balad. Selain memiliki pusat perbelanjaan kelas tinggi yang menawarkan produk terbaru dari merek fashion ternama dari Milan dan Paris, kawasan kota tua di Jeddah ini juga dipadati pedagang tradisional dan pasar terbuka yang menawarkan aneka produk fashion dan souvenir dengan harga relatif murah. Pada malam hari, pusat perbelanjaan ini padat olehpengunjung. Kepadatan pusat perbelanjaan yang terletak di daerah Corniche ini memuncak selama musim haji karena jemaah haji biasanya menyempatkan diri mampir ke Jeddah untuk membeli buah tangan.

Karpet, abaya (baju tradisional perempuan Arab berwarna hitam-merah), aneka merek minyak wangi dengan kemasan unik, tasbih, sajadah, jam tangan, aneka produk kulit, kerudung, pasmina, hingga celak mata dan hena bisa dibeli di pusat perbelanjaan yang setiap waktu shalat tiba ditutup beberapa saat ini.

Sebagian besar barang yang dijual di pasar ini diimpor dari negara lain seperti India, Pakistan, Bangladesh dan tentu saja Cina. Hampir semua produk suvenir yang dijual di pasar Balad, termasuk tasbih dan kaligrafi, merupakan barang impor dari Cina. Barang-barang impor dari Cina ini rata-rata dijual grosiran dan harganya sangat murah. Harga satuan tasbih batu aneka warna hanya satu riyal dan harga satuan aneka dompet kulit hanya antara 10 riyal hingga 15 riyal.

Di Balad, harga jual setiap produk sangat bervariasi sesuai dengan kualitasnya dan bisa ditawar. Sebagian pedagang juga bisa berbahasaIndonesia meski terbatas pada angka-angka sehingga pengunjung asal Indonesia yang tidak bisa berbahasa Arab tetap bisa melakukan tawar menawar harga.

Di antara semua toko di Balad, Toko Ali Murah merupakan toko yang paling banyak didatangi jemaah haji Indonesia. Meski namanya Ali Murah, namun harga barang yang dijual di toko ini sebenarnya relatif lebih mahal dibandingkan harga barang di toko yang lain. Abaya sederhana yang di toko lain dijual seharga 35 riyal hingga 40 riyal, di toko Ali Murah ditawarkan dengan harga 60 riyal. Jemaah haji Indonesia rata-rata lebih memilih berbelanja di toko ini karena transaksi bisa dilakukan dengan bahasa Indonesia. Semua pelayan di toko ini orang Indonesia, pemilik toko pun fasih berbahasa Indonesia.

Selain Balad, pusat belanja murah juga ada di kawasan Haraj Al-Sawarikh, sebuah los pasar panjang yang menjual aneka barang baru dan bekas. K arpet, lampu kristal, barang pecah belah, kosmetik, barang elektronik, produk fesyen dan suvenir banyak dijual di kawasan ini. Jika pandai menawar dan memilih, pengunjung bisa mendapatkan barang bagus dengan harga murah di sini.

Sementara di Tahlia Street, yang berada di tengah kota Jeddah, pengunjung bisa berbelanja di pusat perbelanjaan dan butik yang menjual produk-produk fashion ternama dunia seperti Prada, Gucci, dan Giorgio Armani. Harganya tentu ratusan hingga ribuan riyal per item.

Dan jika ingin berbelanja produk elektronik, Falestin Street tempatnya. Di kanan kiri jalan ini berjajar toko-toko yang menjual aneka merek telepon genggang, kamera, alat pemutar dan perekam musik berformat dijital versi MP3, MP4, dan MP5, serta komputer jinjing beserta aksesorisnya. Harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan harga barang elektronik di tanah air. Selisih harganya berkisar antara puluhan ribu rupiah hingga satu juta.

Masjidil Haram

Masjidil haram merupakan salah satu wisata masjid yang bisa di nikmati oleh para jamaah haji dan merupakan tujuan utama dalam ibadah haji. Masjidil haram ini terletak di kota Mekkah yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam dan merupakan masjid tertua di dunia. Masjid ini selalu ramai dikunjungi umat Islam untuk beribadah salat, umrah, haji dan belajar ilmu agama. Masjidil haram mempunyai tujuh menara dan 19 pintu gerbang yang masing-masing mempunyai nama tersendiri seperti Bab as-Salam (pintu salam), merupakan tempat pertama sebelum melakukan tawaf, pintu ke luar menuju Bukit Safa untuk melakukan sai. Di dalam Masjidil haram terdapat Ka’bah, maqam Nabi Ibrahim AS, Hajar Aswad (batu hitam), dan sumur zamzam. Masjid ini dibangun mengelilingi Ka’bah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah shalat. Imam Besar masjid ini adalah Syaikh Abdurrahman As-Sudaiss, seorang imam yang dikenal dalam membaca Al Qur’an dengan artikulasi yang jelas dan suara yang merdu.

Menurut hadits shahih, satu kali salat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Satu kali salat di Masjid Nabawi sama dengan 1.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Adapun satu kali salat di Masjidil Aqsha sama dengan 250 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Tembok masif di sebelah kiri adalah batas mesjid dengan kawasan disebelah atasnya yaitu istana Raja Arab Saudi. Gedung bertingkat di belakang mesjid adalah Hotel Zamzam. Masjidil Haram tampak megah di bagian kanan, disitulah letak bukit Safa yang sudah ditutup dan dimasukkan kedalam kawasan mesjid.

Perbukitan padat rumah di bagian belakang Masjidil Haram. Pagar besi dan merah adalah batas area mesjid. Beberapa terowongan digali menerobos bukit-bukit itu untuk jalan akses keluar kawasan Masjidil haram. Di latar belakang tampak pemandangan unik nan eksotis khas kota Mekkah yang berbukit-bukit dengan gaya rumah kotak-kotak. Rumah terbawah di bagian tengah yang agak lebar adalah rumah kelahiran Rasulullah SAW.

Tempat minum air zamzam yang terletak di bagian pagar terluar mesjid. Lokasi ini biasanya dipakai untuk mengambil air zam-zam dalam jumlah banyak oleh para jamaah. Air dan kebersihan terus terjaga karena “dikawal” 24 jam oleh para pekerja asalah India, Bangladesh dan sesbagian kecil pekerja Indonesia.

Masjid Nabawi

Masjid Nabawi adalah salah satu masjid terpenting yang terdapat di Kota Madinah, Arab Saudi karena dibangun oleh Nabi Muhammad saw dan menjadi tempat makam beliau dan para sahabatnya. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Lokasi Masjid Nabawi adalah di kota Madinah, Arab Saudi. Masjid Nabawi dibanngun pada Rabiulawal 1/September 622. Pada masa Nabi SAW dan al-Khulafa ar-Rasyidun (empat khalifah besar), Masjid Nabawi berfungsi sebagai tempat beribadah, menurut ilmu dan merencanakan kegiatan kemasyarakatan. Hingga kini, jemaah haji selalu berziarah ke makam Nabi SAW yang terletak di dalam kompleks Masjid Nabawi. Selain itu, di Masjid Nabawi terdapat pula makam Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khattab. Pada bagian lain dari Masjid Nabawi terdapat taman (raudah) yang terletak di antara bekas rumah Nabi SAW dan mimbar.

Sejarah Masjid Nabawi

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah saw., setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah saw. tiba di Madinah, adalah di tempat unta tunggangan Nabi saw. menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah saw. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m× 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m Rasulullah saw. turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi saw. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab di tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah.

Salah satu bagian Masjid Nabawi terkenal dengan sebutan Raudlah (taman surga). Doa-doa yang dipanjatkan dari Raudlah ini diyakini akan dikabulkan oleh Allah swt. Raudlah terletak di antara mimbar dengan makam (dahulu rumah) Rasulullah saw.

Makam Nabi saw

Rasulullah saw. dimakamkan di tempat meninggalnya, yakni di tempat yang dahulunya adalah kamar Ummul Mukminin Aisyah ra., isteri Nabi saw. Kemudian berturut-turut dimakamkan pula dua shahabat terdekatnya di tempat yang sama, yakni Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab Karena perluasan-perluasan Masjid Nabawi, ketiga makam itu kini berada di dalam masjid, yakni di sudut tenggara (kiri depan) masjid. Aisyah sendiri, dan banyak lagi shahabat yang lain, dimakamkan di pemakaman umum Baqi. Dahulu terpisah cukup jauh, kini dengan perluasan masjid, Baqi jadi terletak bersebelahan dengan halaman Masjid Nabawi.

Masjid Quba

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara Masjid Nabawi kota Madinah. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa masjid Quba adalah mesjid yang dibangun atas dasar taqwa. Nabi SAW membangun sendiri arah kiblat masjid ini dari batu. Arah kiblat ini mengalami dua kali perubahan. Pada awalnya arah kiblat menghadap ke Baitulmakdis (Yerusalem), kemudian diubah menjadi ke arah Ka’bah (Mekah). Meskipun secara ukuran masjid ini lebih kecil dibandingkan dengan masjid bersejarah lainnya, namun Masjid Quba menjadi salah satu tempat ziarah penting di Madinah.

Sejarah

Allah swt memuji masjid ini dan orang yang mendirikan sembahyang di dalamnya dari kalangan penduduk Quba’. Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

Bangunan Masjid Quba

Meskipun sangat sederhana, masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk dari pada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang yang bertiang pohon korma, beratap datar dari pelepah dan daun korma, bercampurkan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu, mengambil air sembahyang. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.

Panduan di Masjid Quba

  • Saat akan memasuki bagian dalam masjid, sebaiknya memperhatikan petunjuk di dinding luar masjid. Itu adalah penunjuk pintu masuk yang dikhususkan bagi jamaah laki-laki atau perempuan. Akan terpampang pada sebuah plakat yang ditempelkan ke dinding pintu masuk untuk jamaah laki-laki maupun perempuan.
  • Tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam masjid.

Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain adalah salah satu wisata masjid berkiblat dua dan salah satu masjid terkenal di Madinah. Disebelah Barat Laut Masjid Nabawi kurang 4 Km ada sebuah masjid yang bermenara dua berwarna putih bersih sangat cantik dan anggun. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.

Sejarah Masjid

Pada permulaan Islam, orang melakukan salat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Yersalem/Palestina. Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekah. Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah salat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Di tengah salat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144, yang artinya:

“Sungguh Kami melihat mukamu, menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwu berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”

Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Peristiwa yang terjadi pada tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah itulah yang menjadi cikal bakal pemberian nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.

Tadinya di dekat Masjid Qiblatain ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Hanya bentuk fisiknya sudah tidak kelihatan, karena ditutup dengan tembok.

Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlab (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.

Tempat Pemotongan Hewan Kurban

Di tengah suasana yang kering dan panas, kebesaran Allah antara lain nampak dengan adanya onta, hewan yang bisa beradaptasi dengan sempurna terhadap kondisi alam tersebut. Daya tahan onta terhadap iklim yang ekstrim di padang pasir, sangat berguna untuk sarana transportasi manusia pada zaman dahulu, namun saat ini lebih cenderung untuk keperluan konsumsi baik susu maupun dagingnya. Kunjungan ke peternakan onta merupakan sensasi tersendiri dalam rangka mengenal karakter lingkungan disekitar Mekah. Peternakan onta terletak di tempat terbuka nyaris tidak ada bangunan beratap pada lingkungan tersebut, sejauh mata memandang hanya nampak hamparan padang pasir dengan latar belakang gunung batu. Karena onta sangat tahan terhadap panas terik matahari. Pekerja peternakanpun ternyata sudah menyesuaikan dengan kondisi alam padang pasir, mereka bekerja langsung dibawah terik matahari. Pekerja di peternakan ini hampir semuanya berkulit hitam, mungkin karena sepanjang hari terkena radiasi matahari dengan intensitas yang cukup tinggi. Mengingat hampir tidak terlihat adanya tanaman di padang pasir yang dapat dikonsumsi oleh onta. Maka makanan onta berupa rumput kering, di import dari negara tetangga, minuman untuk onta didatangkan dengan menggunakan mobil tangki dari hasil penyulingan air laut.

Daging onta merupakan menu masyarakat Arab disamping daging kambing, ayam dsb. Sehingga banyak jamaah haji yang memprogramkan kunjungan ke tempat pemotongan hewan di dekat kota Mekah. Sesuai ketentuan, bagi calon haji yang melaksanakan ibadah dengan sistem tamattu diharuskan membayar dam atau denda berupa hewan korban. Dengan demikian sepanjang musim haji frekuensi aktifitas pemotongan hewan sangat meningkat, karena sebagaian besar jemaah melaksanakan haji tamattu. Di sekitar tempat pemotongan tersebut terdapat semacam pasar tempat penjualan berbagai jenis hewan korban yakni kambing dan onta.

Perjalanan menuju lokasi pemotongan hewan melalui jalan yang lebar dan halus diantara bukit-bukit batu penuh pesona dan menawan hati. Sesuai dengan hukum Islam maka penyembelihan hewan dilakukan secara manual. Sesampai di tepat pemotongan hewan nampak banyak petugas berseragam warna merah, dari pakaian, sabuk sampai sorban semuanya serba merah menyala, diperlengkapi dengan golok. Seragam petugas pemotongan hewan yang serba merah tersebut dimaksudkan agar pakaian atau sorban yang terkena percikan darah tidak terlihat kotor. Hampir semuanya berkulit hitam, tampilan mereka nampak seram atau ”Sangar”, sangat sesuai dengan pekerjaannya sebagai ”jagal” binatang. Namun wajah-wajah yang sangar atau seram ini rupanya hanya tampak dari luarnya saja. Mereka merupakan penganut islam yang baik, buktinya begitu dikumandangkan azan sholat, mereka langsung membentuk kelompok dan segera melaksanakan sholat berjamaah di sembarang tempat. Jalur jalan pun digunakan untuk tempat sholat berjamaah, dengan tetap memakai seragam kerja yang serba merah tersebut, pisau dan golok diletakkan disampingnya.

Kebun dan Pasar Kurma

Kurma dan air zam-zam selalu identik dengan oleh-oleh ibadah haji. Kurma yang paling terkenal adalah kurma Madinah. Selain karena bentuknya lebih besar, daging buahnya kenyal dan kering, menambah atribut rasa manis kurma Madinah. Seperti namanya, kurma ini memang berasal dari Madinah, kota produsen kurma terbesar di Arab Saudi.

Hampir bisa dipastikan, setiap jamaah haji dari segala penjuru dunia yang bertandang ke Tanah Suci, akan menjinjing buah cokelat kehitam-hitaman ini sebagai salah satu oleh-oleh mereka. Tak sulit mendapatkan kurma Madinah. Saat berada di Madinah, pergi saja ke Pasar Kurma (Madinah Dates Market ). Letak pasar ini tepat di pusat kota, arah selatan Masjid Nabawi. Hanya berjarak sekitar setengah kilometer dari masjid para nabi, Pasar Kurma berada di kawasan bernama Qurban.

Dari Masjid Nabawi, Anda cukup berjalan ke arah Kubah Hijau dari arah Baqi. Bila wajah Anda sudah menghadap ke arah Kubah Hijau dan membelakangi Baqi, berjalanlah lurus ke depan. Tak berapa lama, Anda akan melihat Pasar Kurma di sisi sebelah kanan. Pasar ini cukup luas dengan  outlet-outlet kurma berjajar. Dijamin tak kesulitan menemukan pasar ini.

Pasar Kurma Madinah yang dibangun pada 1982 oleh Pemerintah Arab Saudi, buka mulai pukul 08.00 sampai pukul 22.00 waktu setempat. Anda bisa membeli aneka kurma di sini, baik kurma murni maupun olahan. Ada puluhan jenis. Sebut saja cokelat isi kurma, kurma isi kacang, kismis, biskuit selai kurma, dan tentunya (buah) kurma Madinah yang terkenal.

Layaknya di pasar-pasar tradisional, para pedagang Pasar Kurma Madinah juga bersaing dalam urusan memberikan harga kepada para calon pembeli. Kejelian memilih aneka jajanan kurma dan kemahiran menawar harga menjadi kunci utama bertransaksi di pasar ini. Tak jarang ada cerita seorang pembeli mendapatkan kurma dengan harga lebih murah dibandingkan pembeli lainnya. Padahal, jumlah makanan dan tempat membelinya sama.

Industri Pengolahan Kurma

Setelah mengunjungi kebun korma biasanya jemaah haji Indonesia mendapat kesempatan untuk mengunjungi pusat pengolahan makanan dengan bahan baku korma. Tidak semua jemaah haji bersedia mengikuti kunjungan ke obyek-obyek yang bukan merupakan tempat Ibadah. Namun banyak pula yang memanfaatkan tawaran tersebut, untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan, dengan catatan sepanjang tidak mengganggu jadwal ibadah wajib dan Sunah.

Dengan adanya perkembangan teknologi pengolahan pangan, sistem pengolahan kormapun mengalami perkembangan. Korma selain dikeringkan, juga diolah dengan campuran coklat, madu, almond, kenari dan sebagainya, sehingga dihasilkan komposisi dan cita rasa yang bervariasi, dengan kemasan warna warni yang sangat memikat. Kunjungan ke pusat industri korma tentu merupakan kesempatan baik guna membeli oleh-oleh untuk kerabat dan teman di tanah air. Bagi yang tidak berminat membeli dapat sekedar mencicipi beberapa butir, karena sesuai kebiasan di Arab saudi, pengunjung bebas mencicipi korma dan hasil olahannya. Sehingga kalau kita berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mencicipi sampai 20 macam produk korma, tentu sudah merasa kenyang tanpa mengeluarkan satu keping real pun. Kebebasan untuk mencicipi secara gratis berlaku pula di toko-toko atau di supermarket swalayan modern Bin Dawood yang terletak persis di samping masjidil Haram Mekah dan masjid Nabawi Madinah hanya terpisahkan oleh plaza tempat perluasan sholat. Korma yang paling diminati jemaah haji Indonesia adalah korma Ajwa atau korma Nabi, karena merupakan korma kesukaan Nabi Mochamad hingga diyakini mengandung berbagai khasiat, harganyapun lebih mahal dari jenis-jenis lain.

Apabila saat di Mekah dan Madinah belum sempat membeli korma, jamaah haji masih dapat memborong berbagai jenis korma di Balai pusat perbelanjaan terkenal di kota Jedah yang merupakan tempat terakhir bagi jemaah haji Indonesia untuk menghabiskan sisa uang Realnya, sebelum naik pesawat pulang ke kampung halaman masing-masing di Indonesia.