Tempat Pemotongan Hewan Kurban

Di tengah suasana yang kering dan panas, kebesaran Allah antara lain nampak dengan adanya onta, hewan yang bisa beradaptasi dengan sempurna terhadap kondisi alam tersebut. Daya tahan onta terhadap iklim yang ekstrim di padang pasir, sangat berguna untuk sarana transportasi manusia pada zaman dahulu, namun saat ini lebih cenderung untuk keperluan konsumsi baik susu maupun dagingnya. Kunjungan ke peternakan onta merupakan sensasi tersendiri dalam rangka mengenal karakter lingkungan disekitar Mekah. Peternakan onta terletak di tempat terbuka nyaris tidak ada bangunan beratap pada lingkungan tersebut, sejauh mata memandang hanya nampak hamparan padang pasir dengan latar belakang gunung batu. Karena onta sangat tahan terhadap panas terik matahari. Pekerja peternakanpun ternyata sudah menyesuaikan dengan kondisi alam padang pasir, mereka bekerja langsung dibawah terik matahari. Pekerja di peternakan ini hampir semuanya berkulit hitam, mungkin karena sepanjang hari terkena radiasi matahari dengan intensitas yang cukup tinggi. Mengingat hampir tidak terlihat adanya tanaman di padang pasir yang dapat dikonsumsi oleh onta. Maka makanan onta berupa rumput kering, di import dari negara tetangga, minuman untuk onta didatangkan dengan menggunakan mobil tangki dari hasil penyulingan air laut.

Daging onta merupakan menu masyarakat Arab disamping daging kambing, ayam dsb. Sehingga banyak jamaah haji yang memprogramkan kunjungan ke tempat pemotongan hewan di dekat kota Mekah. Sesuai ketentuan, bagi calon haji yang melaksanakan ibadah dengan sistem tamattu diharuskan membayar dam atau denda berupa hewan korban. Dengan demikian sepanjang musim haji frekuensi aktifitas pemotongan hewan sangat meningkat, karena sebagaian besar jemaah melaksanakan haji tamattu. Di sekitar tempat pemotongan tersebut terdapat semacam pasar tempat penjualan berbagai jenis hewan korban yakni kambing dan onta.

Perjalanan menuju lokasi pemotongan hewan melalui jalan yang lebar dan halus diantara bukit-bukit batu penuh pesona dan menawan hati. Sesuai dengan hukum Islam maka penyembelihan hewan dilakukan secara manual. Sesampai di tepat pemotongan hewan nampak banyak petugas berseragam warna merah, dari pakaian, sabuk sampai sorban semuanya serba merah menyala, diperlengkapi dengan golok. Seragam petugas pemotongan hewan yang serba merah tersebut dimaksudkan agar pakaian atau sorban yang terkena percikan darah tidak terlihat kotor. Hampir semuanya berkulit hitam, tampilan mereka nampak seram atau ”Sangar”, sangat sesuai dengan pekerjaannya sebagai ”jagal” binatang. Namun wajah-wajah yang sangar atau seram ini rupanya hanya tampak dari luarnya saja. Mereka merupakan penganut islam yang baik, buktinya begitu dikumandangkan azan sholat, mereka langsung membentuk kelompok dan segera melaksanakan sholat berjamaah di sembarang tempat. Jalur jalan pun digunakan untuk tempat sholat berjamaah, dengan tetap memakai seragam kerja yang serba merah tersebut, pisau dan golok diletakkan disampingnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s