Museum Arsitektur Dua Masjid Suci dan Percetakan AL-Quran

Setelah melaksanakan ibadah haji jamaah juga dapat mengunjungi berbagai obyek penting yang berkaitan dengan agama Islam, Antara lain Tempat percetakan Al Quran dan Museum. Saat tinggal di maktab atau pondokan di Mekkah dapat mengunjungi Museum dua masjid Suci, sesuai yang tertera di dinding bangunan yang megah dengan arsitektur khas timur tengah: “Museum of the two holly Mosques Architectures”. Lingkungan di sekitar museum adalah padang pasir bukit batu sebagaimana umumnya saujana atau landsekap di Arab Saudi, namun halaman di sekitar museum ini sangat hijau disamping pohon korma terdapat pula tanaman dari daerah tropis lembab. Antara lain pohon kamboja, bunga merak, bunga tapak doro dan sebagainya.

Di dalam museum terdapat foto-foto perkembangan masjidil Haram maupun masjid Nabawi secara lengkap dari masa ke masa melalui foto-foto raksaksa dan maket atau miniatur masjid. Disamping itu dipamerkan benda benda yang pernah digunakan sebagai perlengkapan kedua masjid suci tersebut yang sudah tidak terpakai karena sudah diganti dengan yang baru. Misal bingkai Hajar Aswad, kunci Ka’bah, pintu kabah, kain penutup Ka’bah, mimbar tempat khotbah, penutup makom Ibrahim, perlengkapan sumur Zam Zam dan sebagainya. Agar benar benar dapat mengamati dan mempelajari dengan seksama materi pameran tentu saja diperlukan waktu paling tidak seharian penuh. Namun sayang waktu kunjungan terasa sangat singkat. Manfaat dari kunjungan ke musem dua masjid suci ini tentu sangat positif untuk jemaah haji, karena akan dapat lebih memahami sejarah dan informasi penting yang berhubungan dengan kedua masjid suci yang menjadi obyek kunjungan utama dalam beribadah haji.

Kemudian mengunjungi tempat percetakan dan penjualan Al Qur’an. Pada tempat ini kita dapat menyaksikan bagaimana proses pencetakaan Al Qur’an dalam berbagai ukuran, dilengkapi terjemahan hampir dalam semua bahasa resmi negara-negara di seluruh Dunia, antara lain bahasa Rusia, Cina, Korea, Jepang, Spanyol tentu saja juga dalam bahasa Indonesia dan sebagainya. Taman di halaman percetakaan Al Qur’an sunggah menakjubkan, mengingatkan kita pada taman-taman di kawasan wisata Nusa Dua Bali, indah dan menarik. Seakan kita tidak sadar kalau sedang berada di tengah padang pasir dan bukit batu.

Tentu saja di lokasi percetakan Al Qur’an, terdapat pula tempat penjualan. Pengunjung dapat memilih Al Qur’an dalam berbagai ukuran dan terjemahan dalam berbagai bahasa. Karena pada saat musim haji banyak pengunjung yang datang, sedangkan waktu kunjungan sangat terbatas. Sehingga meskipun seseorang memiliki uang Real berlimpah, tidak selalu dijamin mendapat kesempatan untuk membeli. Karena ruang penjualan dipenuhi pengunjung dari berbagai negara, cara membelinya pun tidak dengan sistem antrean yang rapi dan teratur, tetapi sistem “siapa cepat dan kuat dia dapat”. Apabila enggan berebut atau berdesak desakkan untuk membeli Al’Quran dengan harga relatif murah di tempat percetakan ini. Jemaah Haji bisa membeli di berbagai toko atau bahkan kadang-kadang di kaki lima baik di Mekah, Madinah maupun di Jedah dengan harga yang bervariasi tergantung kepandaian menawar. Namun tidak perlu khawatir, karena setiap jemaah haji akan mendapat secara gratis atau cuma-cuma, satu Al Quran lengkap dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia, dengan kualitas cetakan dan penjilidan yang sangat prima, atau bisa dikatakan edisi Lux di Bandara internasional King Abdul Aziz Jedah saat kepulangan ke tanah air.

Advertisements

Laut Merah

Laut Merah merupakan salah satu wisata yang memiliki keanekaragaman hayati, terumbu karang, atol dan kadar garam yang tinggi. Walaupun banyak spesies berbahaya di laut Merah, tetapi tidak menyurutkan para penyelam untuk menikmati keindahannya. Sepanjang pantai kota Jeddah berdiri bangunan-bangunan peristirahatan, tempat permainan anak-anak yang menyerupai Walt Disney, yang tidak hanya satu di sepanjang pantai itu. Selain itu juga terdapat permainan ice skyting.

Tidak ketinggalan juga hotel-hotel berbintang dan restaurant yang ikut menyemarakkan kota Jeddah di sepanjang pantai Laut Merah. Tempat rekreasi kota Jeddah bisa dimulai dengan menyusuri sejak Istana Keluarga Kerajaan Arab Saudi yang menampilkan air mancur yang memancar hingga mencapai 100 meter tingginya. Sementara di depan air mancur tersebut, disediakan tempat-tempat duduk untuk memandang keindahan air mancur, tampak dengan megahnya Guest House kerajaan, bangunan-bangunan sekitar istana kerajaan, juga didampingi gedung kantor militer Arab Saudi, dan juga kantor Atase Amerika Serikat.

Bergerak terus sepanjang jalan di tengah-tengah jalan kota wisata Jeddah ini, berdiri ornamen-ornamen berbentuk patung, seperti kapal laut, mobil-mobil yang di panjang di atas suatu tembok dengan sepotong bentuk mobil yang muncul dari tembok tersebut. Selain itu juga ada patung-patung peluru, patung guci indah, patung mesin industri, yang kesemuanya bangunan tersebut diletakkan di tengah-tengah jalan pemisah jalur jalan kiri dan kanan.

Satu hal yang paling menarik di sepanjang pantai ini adalah sebuah Masjid Terapung. Masjid ini berdiri di atas laut, yang tentunya masjid yang menjorok dari pantai ke tengah laut. Sehingga para wisatawan yang sedang berkunjung untuk belanja di kota Jeddah ini tidak bisa melupakan dan menyempatkan diri untuk bersalat di sini. Jika melihat ke dalam masjid ini, bentuk kubah di dalamnya dilingkari kaligrafi ayat-ayat suci Al-Quran serta dihiasi lampu-lampu kristal yang sangat cantik.

Begitu juga dengan lantai masjid terapung yang berlantaikan marmer, sedangkan di dalam masjidnya sendiri dilapisi permadani yang sangat indah luar biasa, yang juga dilengkapi rak-rak al-Quran beserta al-Qurannya.

Laut merah ini merupakan sebuah teluk di sebelah barat Jazirah Arab yang memisahkan benua Asia dengan Afrika. Jalur ke laut di selatan melewati Babul Mandip dan Teluk Aden sedangkan di utara terdapat Semenanjung Sinai dan Terusan Suez. Laut ini di tempat yang terlebar berjarak 300 km dan panjangnya 1.900 km dengan titik terdalam 2.500 m. Suhu permukaan laut selalu konstan sekitar 21-25°C dengan jarak penglihatan 200 m. Namun, sering terjadi angin kencang dan arus lokal yang membingungkan.

Alasan laut ini diberi nama laut merah yaitu sesuai penjelasan secara ilmiah menyebutkan bahwa warna merah di permukaan muncul akibat Trichodesmium erythraeum yang berkembang. Ada juga yang menjelaskan bahwa namanya berasal dari gunung yang kaya mineral di sekitarnya dan berwarna merah. Selain Jeddah, kota-kota yang terdapat di pesisir Laut Merah antara lain: Sharm el Sheikh, Pelabuhan Sudan, dan Eilat.

Jabal Uhud

Jabal uhud adalah nama sebuah bukit terbesar di Madinah. Letaknya kurang lebih 5 km dari pusat kota Madinah,berada di pinggir jalan lama Madinah-Makkah. Jabal Uhud adalah sekelompok gunung yang ada di kota Madinah dan tidak bersambungan dengan gunung-gunung yang lain dimana pada umumnya gunung-gunung di Madinah ini adalah sambung menyambung karena itulah disebut Jabal Uhud yang artinya gunung menyendiri. Gunung ini disebut Nabi sebagai salah satu gunung yang ada di surga, sehingga kalau kita melihatnya sekarang Insya Allah kita akan melihatnya lagi di surga nanti.

Mulai tahun 1984 perjalanan jamaah haji dari Makkah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah tidak melalui jalan lama tersebut, melainkan melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir Jabal Uhud. Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dasyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin yang gugur sampai 70 orang syuhada, antara lain Hamzah bin Abdul Munthalib paman Nabi Muhammad SAW. Perang uhud terjadi pada tahun ke 3H, waktu kaum musyrikin Makkah sampai di perbatasan Madinah,umat Islam mengadakan musyawarah bersama para sahabat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak para sahabat mengusulkan agar umat Islam menyosong kedatanganmusuh di luar kota Madinah, usul ini akhirnya disetujui oleh Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang pemanah ditempatkan di atas gunung Uhud, untuk mengadakan serangan-serangan bilamana kaum musyrikin mulai menggempur kedudukan umat Islam. Dalam perang yang dasyat tersebut umat Islam mendapat kemenangan yang gemilang, pemanah umat Islam yang berada di atas gunung Uhud, setelah melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh musuh ada beberapa di antara mereka yang menginggalkan pos untuk turut mengambil barang-barang tersebut padahal Nabi Muhammad SAW telah menginstruksikan agar tidak meninggalkan pos meski apapun yang terjadi.

Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut digunakan oleh Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) seorang ahli strategi yang memimpin tentara berkuda,menggerakkan tentaranya kembali guna menyerang sehingga umat Islam mengalami kekalahan yang tidak sedikit yaitu sampai 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Dalam perang ini Hindun binti Utbah mengupah Wahsyi Alhabsyi,budak jubair untuk membunuh Hamzah karena ayah Hindun dibunuh oleh Hamzah dalam perang Badar. Begitu pula Jubair bin Mut’im berjanji kepada Wahsyi akan memerdekakannya setelah ia dapat membunuh paman Jubair dalam peperangan badar pula. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. Dan sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai Nabi Muhammad SAW gugur karena badannya penuh anak panah. Setelah perang usai dan kaum musyrikin mengndurkan diri kembali ke Makkah, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan di tempat mereka roboh, sehingga ada satu liang kubur beberapa syuhada. Kuburan uhud waktu sekarang dikelilingi tembok.

Jabal Rahma

Jabal Rahmah merupakan bukit yang ada di seputaran Padang Arafah. Di bukit itulah Adam dan Hawa bertemu kembali setelah berpisah beberapa tahun lamanya. Sampai kini, bukit ini masih berbentuk batu cadas dengan sebuah tugu monumen di puncaknya. Banyak jemaah yang naik ke bukit ini. Jabal Rahmah yang berarti bukit penuh rahmat, selalu dipenuhi peziarah karena mempunyai sejarah penting dalam Islam. Dikisahkan, di bukit inilah Nabi Adam dan Hawa bertemu setelah 100 tahun diturunkan dari langit ke bumi. Konon, di tempat ini merupakan tempat terbaik untuk berdoa meminta jodoh.

Dikatakan, apabila seseorang berdoa di atas bukit ini untuk meminta pendamping hidup, niscaya doanya dikabulkan Allah. Wallahualam. Tidak seperti Jabal Tsur dan Jabal Nur yang terlihat gersang dan tetap terjal, di Jabal Rahma sudah tersedia anak tangga untuk mencapai ke puncaknya. Di pelataran parkir juga terdapat papan petunjuk tentang bukit ini, termasuk sejumlah larangan yang dilakukan pengunjung.

Selain itu, unta yang dihiasi oranamen bunga warna-warni yang mencolok, sehingga terlihat ngejreng, siap ditumpangi pengunjung buat foto bersama. Untuk foto bersama unta ini, pengunjung dikenai biaya 20 riyal (1 riyal = Rp2.500–Rp2.800) sekali jepret dan langsung jadi, tanpa klise/negatif film. Tapi bisa juga dinegosiasikan soal harganya. Kadang-kadang si pemilik unta ini memaksa pengunjung untuk foto dan naik unta.

Untuk menambah koleksi oleh-oleh pun bisa dibeli dari sini seperti aneka batu cincin, tasbih, gantungan kunci, dan aneka pajangan. Ada juga barang-barang elektronik buatan China yang digelar di sini. Dan jangan lupa untuk menawar saat bertransaksi. Jangan khawatir soal bahasa, sebagian besar pedagang di Arab mengerti bahasa Indonesia dalam perniagaan. Maklum, setiap tahun, jemaah haji Indonesia yang datang ke Tanah Suci merupakan yang terbesar. Selain itu, warga Indonesia terkenal sekali suka berbelanja. Pasar inilah yang dimanfaatkan pedagang.

Untuk menambah koleksi oleh-oleh pun kita bisa mendatangi tempat belanja yang paling terkenal di Mekah, yakni Pasar Seng, yang berada tak jauh dari Masjidil Haram, bahkan pas keluar masjid dari pintu Babus Salam, pasar tradisonal itu sudah terlihat. Orang Indonesia menyebutnya Pasar Seng, meskipun tak satu pun penduduk Mekah yang mengenal nama itu. Sebab, orang Mekah menyebut itu sebagai Pasar Mudda’ah.

Konon, pasar itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. dan merupakan tempat diadakannya lomba membaca puisi. Lama-kelamaan tempat keramaian itu menjadi pasar dan tetap ramai dikunjungi, terutama di musim haji. Dahulunya pasar ini beratap seng, sehingga disebut Pasar Seng meski sekarang tidak lagi. Suasana pasar itu mirip pedagang kaki lima di Tanah Air, dan barangnya pun mempunyai kemiripan dengan aneka ragam barang di Pasar Tanah Abang, seperti mukena, kerudung, dan sajadah. Akan tetapi, dilihat dari jenis barang, Pasar Seng menawarkan lebih beraneka ragam. Harap diingat, belanja di sini harus menawar.

Jabal Nur dan Gua Hira

Disebelah utara masjidil Haram kurang lebih 6 km, terdapat sebuah gunung, tidak begitu tinggi (Jabal Nur). Untuk mendaki ke atas mencapai puncak Gua Hira ini memerlukan waktu kurang lebih satu jam sedangkan dipuncaknya agak menurun sedikit terdapat sebuah gua yang cukup empat orang duduk, tinggi di dalamnya setinggi orang berdiri. Gua tersebut dikenal dengan nama gua Hira.

Ukuran Gua tersebut tidak terlalu besar. Pintu guanya menghadap ke utara (ke kota Makkah). Dan jika bermaksud masuk, harus melewati jalan di antara dua batu yang lebarnya sekitar 60 cm. Panjang gua hanya 3 meter, lebarnya sekitar 1,30 meter dengan tinggi sekitar 2 meter. Jadi, luas Gua Hiro kira-kira cukup untuk shalat dua orang. Sementara di bagian kanan Gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup digunakan shalat untuk seorang dengan cara duduk. Gua Hira terletak di negara Arab Saudi. Letaknya pada tebing menanjak yang agak curam walau tidak terlalu tinggi, oleh karena itu untuk menuju gua itu setiap orang harus memiliki fisik yang kuat.

Jabal Nur dan Gua Hira ini sangat penting dalam sejarah Islam karena Gua Hira ini adalah tempat Nabi Muhammad menyendiri dari masyarakat yang pada saat itu masih belum beriman kepada Allah dan tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama yaitu surat Al’alaq dari ayat 1 sampai 5 dari Allah melalui malaikat Jibril, yang artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama  TuhanMu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhanmu Yang Maha Mulia, Dzat yang mengajar (kepada manusia) dengan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa-apa yang mereka belum mengetahuinya”.

Saat itu Malaikat Jibril a.s mendatangi serta memeluk Beliau seraya berkata: “Iqra bismirabbikalladzi khalaq…” Beliau menjawab : “Aku bukanlah orang yang pandai membaca!“ kemudian Malaikat Jibril a.s mengulangi ucapan dengan maksud agar Nabi Muhammad Saw, dapat mengucapkan. Kemudian Nabi Muhammad saw dapat mengucapkan, sehingga beliau hapal.

Demikianlah selanjutnya setiap kali Jibril a.s menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw selalu dengan bacaan yang kemudian diulang kembali oleh Rasulullah Saw. Perihal kejadian ini Allah Swt, telah berfirman dalam Al-Qur’an : “Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. (Q.S. Al-Qiyamah / 75 : 18,19)